M Taufik Sebut DPRD DKI Siap Diperiksa KPK soal Reklamasi

M Taufik Sebut DPRD DKI Siap Diperiksa KPK soal Reklamasi

Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Saefullah telah diperiksa KPK terkait proyek reklamasi. Wakil Ketua DPRD DKI Mohamad Taufik menyebut anggota DPRD DKI siap dimintai keterangan oleh lembaga antirasuah tersebut.

“Ya kalau anggota DPRD diundang pasti datang, nggak ada masalah,” kata Taufik di Gedung DPD Partai Golkar, Jalan Pengangsaan Barat, Jakarta Pusat, Minggu, (29/10/2017).

Taufik enggan menanggapi pemeriksaan Saefullah oleh KPK. Ia mengaku menghormati proses hukum yang sedang berjalan tersebut.

“Saya kira itu haknya KPK ya,” sebutnya.

Sebelumnya, Saefullah dimintai keterangan KPK terkait penyelidikan reklamasi Pulau G. Saefullah menyebut materi pertanyaan terkait korporasi yang terlibat dalam reklamasi Pulau G. Ditanya juga soal Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHK).

“(Dikonfirmasi terkait) Reklamasi yang di Pulau G itu. Terkait korporasinya,” kata Saefullah di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jaksel, Jumat (27/10).

KPK kini membuka penyelidikan baru atas kasus korupsi Raperda Reklamasi pada 2016 lalu karena diduga ada keterlibatan korporasi.

Saefullah diperiksa KPK berdasarkan Surat Perintah Penyelidikan Nomor Sprin Lidik-75/01/07/2017 tanggal 25 Juli 2017. Namun di surat itu tidak tercantum nama korporasi yang tengah didalami keterlibatannya.

Advertisements

Persiapan Pernikahan Kahiyang, Jokowi Tak Cuti

Persiapan Pernikahan Kahiyang, Jokowi Tak Cuti

Putri Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakni Kahiyang Ayu akan segera menikah dengan Muhammad Bobby Afif Nasution. Persiapan dilakukan, namun Jokowi tak cuti.

“Tidak ada cuti,” tegas Jokowi di kediaman pribadinya di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, sebagaimana dikabarkan keterangan pers Deputi Bidang Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Minggu (29/10/2017).

Pernikahan putrinya itu digelar pada hari kerja, baik yang di Solo maupun di Medan. Rapat hari ini telah memastikan pelaksanaan pernikahan itu.

“Ini baru saja tadi telah rapat terakhir untuk persiapan pernikahan Kahiyang Ayu dan Muhammad Bobby Afif Nasution yang akan dilangsungkan pada 8 November 2017 di Solo dan kemudian akan dilanjutkan juga nanti tanggal 24,25,26 (November) di Medan,” tutur Jokowi.

Berdasarkan hasil rapat, Presiden menyatakan bahwa hingga saat ini persiapan pernikahan telah selesai dan berjalan sesuai rencana. Sebagai orang tua, Presiden pun tak segan untuk ikut mengawasi jalannya persiapan pernikahan putrinya tersebut.

“Alhamdulillah tadi saya cek sendiri dari seluruh kepanitian yang ada sudah beres semuanya tinggal mendistribusikan undangannya yang akan dimulai besok pagi,” tutur Presiden.

Sama seperti pernikahan Gibran sebelumnya, para undangan terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat, masyarakat, hingga para relawan.

“Tamu undangan kurang lebih delapan ribu,” ungkapnya.

Sedangkan untuk saksi pernikahan, Presiden memberikan bocoran mengenai siapa yang akan menjadi saksi dari kedua mempelai.

“Jadi saksinya nanti yang dari kami Bapak H.M. Jusuf Kalla, kemudian yang dari pihak Muhammad Bobby Afif Nasution, Bapak Darmin Nasution,” ucap Presiden.

Misteri Tangisan Bayi di Kamar Mandi Kos Mahasiswi

Misteri Tangisan Bayi di Kamar Mandi Kos Mahasiswi

Lewat tengah malam, Sabtu, 28 Oktober 2017, Dian Septiani (21), seorang mahasiswi penghuni kos Widya Iswara, tiba-tiba terjaga. Lamat-lamat, ia mendengar tangis bayi menyayat hati. Ia pun keluar dari kamarnya dan mencari sumber suara.

Suara tangis bayi itu rupanya berasal dari kamar mandi dalam kamar K, yang yang ditempatinya bersama sejumlah mahasiswi lainnya. Ia pun membuka kamar dan langsung menuju kamar mandi kos putri di Desa Dukuh Waluh, Kecamatan Kembaran, Banyumas itu.

Dian nyaris syok. Di depan matanya, tergeletak seorang bayi di lantai kamar mandi dengan usus terburai. Sementara, badan bayi penuh luka. Ia pun histeris dan langsung membangunkan penjaga kos, Pujiati (34). Mereka berdua, ditemani oleh penghuni kos lainnya, Rutri Wahidyana (20) segera melapor ke Ketua RT setempat.

Oleh pemilik kos, bayi itu lantas dibawa ke Puskesmas Kembaran, Banyumas. Melihat luka yang janggal, petugas Puskesmas melaporkan penemuan bayi terluka ini ke Polsek Kembaran. Puskesmas didampingi petugas Polsek Kembaran lantas, merujuk bayi nahas ini ke RSUD Margono Sukarjo Purwokerto.

Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun mengatakan, kuat diduga, bayi itu merupakan korban upaya pembunuhan. Terduga pelakunya adalah ibunya sendiri, FW (20) seorang mahasiswi Purwokerto, asal Cilacap Jalan Lawu, Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap.

Diduga, pelaku menusuk bayinya dengan gunting di perut samping kanan hingga usus terburai. Pelaku juga mencakar punggung dan dada bayinya hingga luka lecet.

“Upaya melakukan upaya

dan mengakibatkan si bayi mengalami luka cakaran di bagian punggung, dada, sobek diperut samping kanan hingga ususnya keluar,” katanya, Sabtu malam, melalui keterangan tertulis dari Humas Polres Banyumas.

Dia menjelaskan, terduga pelaku masih dirawat di Puskesmas Kembaran. Lantaran kondisinya yang lemah, Fitri hingga kini belum diperiksa.

Hingga kini, kepolisian masih menyelidiki kasus ini. Namun, kuat dugaan, pelaku tidak menghendaki kelahiran bayinya sehingga berupaya membunuhnya. Ada kemungkinan pelaku hamil karena melakukan hubungan di luar nikah.

Mahasiswa Yogya Deklarasi Tolak Radikalisme

Mahasiswa Yogya Deklarasi Tolak Radikalisme

Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta mendeklarasikan penolakan terhadap intoleransi dan radikalisme. Deklarasi itu disampaikan dalam acara yang digelar di Lapangan Mandala Krida Yogyakarta, Sabtu sore 28 Oktober 2017.

Deklarasi kebangsaan yang juga dihelat dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda itu juga diikuti Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dhofiri, Komandan Korem 072/Pamungkas Brigjen Fajar Setiawan, Kepala Kejati DIY Sri Harijati, tokoh lintas agama serta rektor perguruan tinggi se-DIY.

“Deklarasi ini untuk menyerukan kepada masyarakat luas dan segenap komponen bangsa agar senantiasa mengedepankan sikap persaudaraan, dan cinta damai meskipun berbeda agama, suku, ras dan golongan,” kata Ketua Panitia Pengarah Pardimin saat membuka acara deklarasi itu, dilansir Antara.

Menurut Pardiman, deklarasi itu merupakan kelanjutan dari Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia dengan tema “Aksi Kebangsaan Melawan Radikalisme” yang telah berlangsung di Nusa Dua Bali pada 25-26 September 2017.

Ia menilai deklarasi itu penting untuk merespons maraknya fenomena intoleransi dan radikalisme yang menguat akhir-akhir ini. Banyak fakta empiris di lapangan baik di tingkat nasional maupun di DIY yang menunjukkan mulai merosotnya prinsip Bhineka Tunggal Ika karena ternodai oleh sikap sektarianisme, primordialisme dan fanatisme golongan.

“Oleh sebab itu deklarasi ini juga untuk menegaskan kembali UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai pilar utama dengan Pancasila sebagai dasar negara,” kata dia.

Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta ini berharap dengan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 mampu memupuk persatuan dan kesatuan masyarakat, seluruh stakeholder serta seluruh civitas akademika di DIY.

Deklarasi mahasiswa dan pimpinan perguruan tinggi melawan radikalisme itu didahului dengan orasi Gubernur DIY Sultan HB X dan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi mewakili seluruh rektor di DIY.

Buka Penyelidikan Baru Kasus Reklamasi, KPK Periksa Sekda DKI

Buka Penyelidikan Baru Kasus Reklamasi, KPK Periksa Sekda DKI

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mengembangkan kasus dugaan suap pembahasan rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta tahun 2016 atau reklamasi.

Hal tersebut diketahui berdasarkan surat panggilan yang dilayangkan KPK kepada Sektetaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Saefullah.

 

Surat panggilan pemeriksaan tersebut terhadap Saefullah yakni surat perintah penyelidikan, Nomor Sprin.Lidik-75/01/07/2017 tanggal 25 Juli 2017 dengan objek penyelidikannya yakni korporasi.

Saefullah sendiri tak menampik dirinya dipanggil ke Gedung KPK dimintai keterangan untuk korporasi.

“Reklamasi yang dipulau G itu terkait korporasinya,” ujar Saefullah di Gedung KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (27/10/2017).

Izin pelaksanaan Pulau G sendiri dikantongi oleh PT Muara Wisesa Samudera yang juga anak usaha PT Agung Podomoro Land.

Disinyalir KPK mengembangkan kasus suap yang lebih dulu menjerat mantan Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land (APL) Ariesman Widjaja, mantan Anggota DPRD Mohamad Sanusi dan anak buah Ariesman, Trinanda Prihantoro. Ketiganya telah divonis bersalah terkait suap pembahasan Raperda Reklamasi.

Saefullah mengatakan, dalam pemeriksaan kali ini dirinya dimintai membawa dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Pulau G.

“Ditanya soal proses KLHS-nya, itu kajian lingkungan hidup strategisnya. Lebih fokuss Pulau G,” kata dia.

Tidur Nonstop Belasan Hari, Begini Kondisi Terbaru Echa

Tidur Nonstop Belasan Hari, Begini Kondisi Terbaru Echa

Fenomena tidur nonstop belasan hari yang dialami Siti Raisa Miranda alias Echa, remaja putri berusia 13 tahun, menjadi perhatian banyak pihak, terutama kalangan medis. Sebelum masuk ke Rumah Sakit Ansari Saleh, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), pada Kamis, 26 Oktober 2017, Echa sempat diperiksa oleh dua dokter spesialis jiwa dan saraf puskesmas.

Namun, dokter spesialis jiwa Siti Khairiyah menyatakan belum bisa menyimpulkan penyebab dugaan penyakit hipersomnia yang diderita Icha. Pemeriksaan teliti dan observasi intens diperlukan untuk menentukan penyebab gangguan yang diderita Echa.

Selanjutnya, ia menyarankan orangtua Echa membawa putrinya ke rumah sakit, tempat tim dokter dengan berbagai bidang keahlian bisa memeriksanya secara seksama dan mendiagnosis masalah yang membuat remaja putri itu sering tertidur dalam waktu lama.

Adapun di Rumah Sakit Ansari Saleh, Echa dirawat di ruang UGD dan diberi infus. Hanya saja, tim dokter rumah sakit belum menyampaikan keterangan resmi mengenai kondisi terkini Echa.

“Kalau dibanding hari kemarin-kemarin, saat ini ada kemajuan, sebab diberi makan lebih mudah. Kalau hari lalu tidak, sulit sekali,” ucap Muliyadi, Jumat, 27 Oktober 2017, dilansir Antara.

Ia menambahkan, tim dokter rumah sakit sudah mengadakan pemeriksaan, termasuk pemeriksaan CT Scan, serta memberikan pengobatan kepada putrinya. Namun, ia mengaku belum mendapat informasi dari dokter mengenai penyakit Echa yang tidur nonstop belasan hari.

“Kita akan tetap sabar dan terus berdoa untuk kesembuhan Echa. Sebab ini merupakan cobaan yang harus kami hadapi dengan sabar,” ujar Muliyadi.

 

3 Tahun Pemerintahan Jokowi, Fadli Zon: Dia One Man Show

3 Tahun Pemerintahan Jokowi, Fadli Zon: Dia One Man Show

Hari ini pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla genap berusia tiga tahun. Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyebut Jokowi banyak melakukan peran yang tidak perlu atau istilahnya ‘one man show’.

“Kita melihat bahwa Presiden Jokowi ini dia ini one man show, dia berlaku sebagai presiden, kadang jadi gubernur, kadang jadi bupati, sampai kadang jadi ketua RT bagi-bagi kaos, bagi-bagi sepeda dan sebagainya yang tidak perlu dilakukan oleh seorang presiden,” kata Fadli pada diskusi 3 Tahun Jokowi-JK di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (20/10/2017).

Fadli menilai cara kepemimpinan Jokowi itu membuat peran menteri menjadi tidak optimal. Bahkan peran wakil presiden juga dinilai hampir tak terlihat.

“Ini kan sangat disayangkan, tidak menjadi satu upaya kolektif untuk membangun terutama mengoptimalisasikan peran dari para menteri birokrasi yang begitu besar. Jadi seolah-olah bekerja sendirian. Bahkan wapres tidak kelihatan untuk diajak bekerja,” ujar Fadli.

Dia mengatakan selama tiga tahun kepemimpinan Jokowi terdapat banyak hal yang dirasa menyulitkan masyarakat lapisan bawah. Hal itu dianggap tak sesuai dengan apa yang dijanjikan Jokowi.

“Kemudian tingkat hutang yang cukup tinggi, pekerjaan juga semakin sulit, itulah hal-hal yang langsung dirasakan oleh masyarakat di lapis bawah kita. Ekonomi kita tidak bertumbuh sesuai dengan apa yang pernah dijanjikan tujuh persen, hanyadiangka 5%, 5,1% paling tinggi,”paparnya.

“Belum lagi di politik indeks demokrasi Indonesia menurun terus, dari 2015 (sebesar)73, 2016 (sebesar) 72, sekarang jadi 70. Ini karena semakin banyak represi terhadap kelompok-kelompok kritik, aktivis, ulama, belum lagi Perppu Ormas dan sebagainya. Demokrasi pun mengalami kemunduran. Ini yang kita lihat dalam tiga tahun pemerintahan Jokowi,” pungkasnya.

Cerita Fadli Zon yang Koleksi 1.000 Keris

Cerita Fadli Zon yang Koleksi 1.000 Keris

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menceritakan kegemarannya mengoleksi barang antik seperti keris. Fadli mengaku, selalu membawa keris di dalam mobilnya. Bagaimana ceritanya?

“Ya saya setiap hari di mobil saya selalu bawa keris, selalu. Sudah dari dahulu sebelum jadi anggota DPR itu selalu bawa keris,” ujar Fadli.

Hal ini disampaikan Fadli dalam acara pameran keris di gedung DPR, Senayan, Jakpus, Kamis (26/10). Waketum Gerindra ini menuturkan, dirinya sudah lama mengoleksi keris dan jumlahnya mencapai 1.000.

“Saya sudah lama 20 tahun (koleksi keris). Ada 1.000 (keris) lah,” kata Fadli.

Keris yang selalu dibawanya adalah keris pusaka Pamor Junjung Drajat. Menurutnya, dalam perjalanan, ia gemar memandangi keris kesayangannya itu.

“Ya kadang kala iseng saya lihat (keris Junjung Drajat). Ya adalah (isinya) masa nggak ada isinya, isinya ya itu besi, baja ya keris. Junjung Drajat kalau saya bawa di mobil,” urai Fadli.

Harga keris koleksi Fadli pun beragam. Dari Rp 200 ribu hingga Rp 15 juta

“Saya juga belinya lebih ke bentuk edukasi yang dipamerkan itu ada yang saya beli cuma Rp 200 ribu ada, Rp 300 ribu. Temuan dari kali, kaya sungai saya beli. Ada yang harganya sejuta, Rp 5 juta, ada yang Rp 10 juta, Rp 15 juta. Tergantunglah,” ungkapnya.

Lantas, bagaimana cara merawat koleksi kerisnya? “Ya perawatannya sederhana. Perawatannya itu dibersihkan, diminyaki,” ujar Fadli.

 

4 Remaja Perkosa Gadis Belia di Kebun Sawit

4 Remaja Perkosa Gadis Belia di Kebun Sawit

Gadis perempuan berusia 14 tahun berinisial AP menjadi korban pemerkosaan secara bergiliran sejumlah remaja setelah dijebak rekan sepermainannya. Ada empat pelaku yang masih berusia 17 tahun dilaporkan ke kepolisian setempat. Saat ini, keempat pelaku telah meringkuk di penjara.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Riau Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo menjelaskan, ‚Äékasus pemerkosaan bermula ketika korban yang tinggal di Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, dijemput temannya yang berinisial TM pada Sabtu malam, 21 Oktober 2017.

Korban dibawa ke desa sebelah dan diajak ke warung tuak. Di sana, korban dicekoki minuman tradisional beralkohol itu, sehingga mabuk. Karena TM juga mabuk, selanjutnya TM menghubungi pelaku berinisial KH untuk mengantarkan AP pulang ke rumahnya.

“Ternyata, KH tidak mengantarkan korban, malah diajak ke kebun sawit samping kantor camat,” kata Guntur, Senin sore, 23 Oktober 2017.

Di sana, sudah ada tiga rekan pelaku MA, FA, dan As. Di samping kantor camat itu, korban digilir dan direnggut kegadisannya. Korban baru diperbolehkan pulang oleh keempat pelaku ini pada dini hari, serta dibiarkan berjalan kaki sendirian.

Sesampainya di rumah, korban menceritakan malam pahit yang dialaminya kepada orangtua. Kejadian ini langsung dilaporkan orangtua korban ke Polsek Tambusai. Polisi langsung melakukan penyelidikan dan memburu para pelaku.

“Para pelaku ditangkap 22 Oktober 2017 di rumahnya masing-masing dan langsung ditahan,” kata Guntur.

Dalam kasus pemerkosaan ini, penyidik menjadikan sehelai celana jeans biru, sehelai baju warna pink, celana dalam, dan sepeda motor yang digunakan pelaku sebagai barang bukti. Korban juga divisum dan dinyatakan terdapat kerusakan pada alat kelaminnya.

Teroris yang Ditangkap di Sulsel Targetkan Gubernur

Teroris yang Ditangkap di Sulsel Targetkan Gubernur

Densus 88 Antiteror Polri menangkap satu terduga teroris di Desa Timampu, Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan pagi tadi. Pria bernama Bakri alias Bakri Baroncong alias Aslam alias Pak Nur diduga terlibat aksi terorisme pada November 2012 lalu.

Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Dicky Sondani mengatakan, aksi terorisme tersebut menargetkan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Syahrul bakal dibunuh menggunakan bom pipa yang telah ia rancang.

“Dilempar bom rakitan, tapi bomnya tidak meledak,” ujar Dicky di Mapolda Sulawesi Selatan, Selasa (24/10/2017).

Saat itu, Syahrul tengah melaksanakan kegiatan jalan sehat dalam rangka HUT Partai Golkar. Namun tiba-tiba seorang pria melemparkan bom pipa ke atas podium tempat Syahrul beroperasi.

Dicky menuturkan, Bakri akhirnya berhasil ditangkap setelah berstatus buron sejak 2012. Dia terbukti menyiapkan bom tersebut untuk menyerang Syahrul.

“Dia latar belakangnya petani. Kita terus pantau. Lima tahun dia menghilang, kami sudah mencari. Dia DPO cukup lama,” kata dia.

Namun Dicky belum bisa mengungkapkan kelompok jaringan Bakri. Sebab, teroris yang berada di wilayah Sulawesi Tengah bisa berasal dari mana saja, termasuk Poso.

“Yang jelas mereka ini masih terkait dengan kelompok kasus-kasus terorisme besar lainnya,” jelas Dicky.

Malam ini juga, Bakri diterbangkan ke Jakarta untuk diperiksa secara intensif di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Dia dibawa ke Jakarta bersama istrinya berinisial R.