Berebut Lepet di Pesta Lomban Jepara, Untuk Apa?

Berebut Lepet di Pesta Lomban Jepara, Untuk Apa?

Tradisi syawalan di Jepara selalu dirayakan dengan menggelar Pesta Lomban, seperti yang digelar Minggu 2 Juli 2017. Ratusan warga terlibat dan rela berdesakan. Dalam benak mereka, bisa mendapatkan ketupat dan lepet. Bukan sekadar makanannya, namun berkahnya.

Nur Rokimin, warga Tahunan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah datang bersama dua anaknya. Ia sudah menyiapkan fisik dan mental untuk berebut ketupat dan lepet. Mereka berharap berkah dari gunungan ketupat dan lepet itu.

Tak mudah baginya untuk mendapatkan ketupat dan lepet. Dia harus berdesak-desakan dan beradu cepat dengan ratusan pengunjung lain. Begitu Bupati Jepara Achmad Marzuqi selesai berdoa, gunungan berisi makanan berbahan ketan itu langsung diturunkan. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa detik, gunungan itu ditelan kerumunan manusia.

Rokimin bercerita bahwa setiap tahun ia mengikuti acara itu. Tak merasa terganggu ketika harus mengajak dua anaknya.

“Ya, sudah biasa seperti ini. Setiap tahun selalu ikut,” kata Rokimin yang sukses merebut sebungkus lepet dan disuapkan kepada dua anaknya bergantian.

Acara yang digelar di Pantai Kartini Jepara ini bukan hanya diikuti mereka yang sudah “senior” dalam hal rebut merebut lepet saja. Misalnya Kasmin, pengunjung Pantai Kartini.

Kasmin mengaku ini pengalaman pertamanya. Sebelumnya, dia hanya mendengar cerita kemeriahan Pesta Lomban dari mulut tetangga dan saudara.
“Setiap tahun katanya ramai dan kalau bisa mendapatkan ketupat atau lepet bisa jadi berkah,” kata Kasmin.

Rasa penasaran Kasmin terjawab. Hari ini dia turut serta berebut gunungan ketupat dan lepet. Usai mendapatkan ketupat dn lepet, dia bergegas menepi. Lantas, memakan apa yang didapatnya bersama anak-anaknya.

“Seru, heboh, senang, ini pengalaman pertama,” kata Kasmin.

Sebelum gunungan ketupat dan lepet diperebutkan, masyarakat yang sudah memadati lapangan Pantai Kartini disuguhi hiburan tarian.

Tari Kepis yang dibawakan seniman-seniman muda Jepara menggambarkan kehidupan nelayan yang berat. Mulai dari lilitan kebutuhan ekonomi hingga bahaya maut yang mengancam ketika mencari ikan di laut.

Berebut makanan memang miris, namun dalam pesta lomban, yang diperebutkan bukan makanan saja, namun berkah yang diyakini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s