9 Pasangan Mesum dan Lesbian Terjaring Razia di Kota Palembang

9 Pasangan Mesum dan Lesbian Terjaring Razia di Kota Palembang

Razia gabungan TNI, Polri bersama Satpol PP Kota Palembang merazia sejumlah penginapan dan tempat hiburan. Sebanyak sembilan pasangan mesum dan pasangan lesbian terjaring dalam razia itu.

Pantauan detikcom, ketika tim gabungan melakukan razia di salah satu hotel dan kafe di Jalan RE Martadinata, Ilir Timur II, Kota Palembang, sejumlah pengunjung tampak panik dan berusaha menghindari petugas. Razia gabungan penyakit masyarakat dilakukan untuk menindaklajuti praktik-praktik prostitusi.

“Dari hasil razia yang terbagi dua tim didapati 20 orang tanpa identitas dan sembilan pasang terjaring di tempat penginapan atau kos-kosan. Pasangan ini diduga melakukan perbuatan asusila, bahkan mirisnya ada satu pasangan kita duga merupakan pasangan lesbian,” Kabid Bidang Penindakkan Perundang-undangan Daerah Kota Palembang, Dedi Harapan, di Jalan RE Martadinata, Ilir Timur II, Kota Palembang, Selasa (21/11/2017).

 

Dedi menjelaskan, kesembilan pasangan yang terjaring razia mayoritas berusia remaja. Tak hanya itu, petugas juga mengamankan 150 botol minuman keras berbagai merk yang turut diangkut ke kantor Satpol PP di Simpang Angkatan 66 Palembang.

“Mayoritas berusia muda yang diduga mahasiswa dan pelajar. Rencananya besok pagi pukul 09.00 WIB mereka akan mengikuti sidang yustisi di kantor Satpol PP,” lanjut Dedi.

Ditambahkan Dedi, Pemkot Palembang akan memberikan peringatan keras bagi pemilik kos-kosan, hotel, kafe maupun tempat hiburan malam. Pemkot tak akan segan untuk mencabut izin operasional usaha kepada Wali Kota Palembang.

“Tentu semua hasil razia malam ini dalam pembinaan, kami akan berikan surat peringatan pada pengusaha baik hotel, penginapan, kos dan kafe. Jika tetap tidak diindahkan akan kita rekomendasikan untuk pencabutan izin operasional,” tutup Dedi.

Advertisements

APPI Perketat Pengawasan Terhadap Debt Collector

APPI Perketat Pengawasan Terhadap Debt Collector

Citra debt collector atau tenaga jasa penagihan menurun karena adanya oknum yang sering kali melakukan eksekusi di jalan dengan disertai kekerasan. Untuk mengubah citra negatif itu, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memperketat pengawasan terhadap debt collector.

“Untuk mengubah citra jasa penagih yang kurang baik saat ini, APPI melalui POJK No 29 (Peraturan Otoritas Jasa Keuangan) tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan, mewajibkan seluruh tenaga penagih untuk mengikuti pelatihan dan ujian sertifikasi profesi pembiayaan Indonesia,” papar Ketua APPI Suwandi Wiratno, Selasa (21/11/2017).

Selama pelatihan tersebut, tenaga jasa penagihan akan diberikan pelatihan mengenai kode etik dan cara menarik (eksekusi) dengan benar dan sopan. Jika lulus ujian, debt collector ini akan menerima sertifikat dan kartu lulus ujian yang berlaku selama tiga tahun.

“Selama kurun tiga tahun apabila mereka bertindak tidak baik dan tidak sopan juga tidak benar, maka perusahaan pembiayaan wajib melaporkan perilaku yang bersangkutan misalnya yang bersamgkutan melanggar kode etik dan bahkan mengarah ke tindak kriminal,” terang Suwandi.

Jika terbukti melakukan tindak pidana, perusahaan pembiayaan akan memberikan sanksi tegas hingga pemecatan. “Maka kartunya akan dicabut jika terbukti oleh pengadilan melakukan tindak kriminal dan tidak dapat lagi bekerja di industri perusahaan pembiayaan,” urainya.

Terkait mekanisme eksekusi, diakui Suwandi bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada debt collector itu sendiri juga kepada nasabah. Bahwa saat melakukan eksekusi, tenaga jasa penagihan harus membawa sertifikat fidusia, setelah sebelumnya memberikan somasi (SP) pertama hingga ketiga kalinya kepada debitur.

Sebetulnya, dalam hal mengamankan jalannya eksekusi, pihak perusahaan pembiayaan bisa meminta bantuan ke pihak Polri sesuai dengan Peraturan Kapolri (Perkap) No 8 Tahun 2011 tentang Pengamanan Eksekusi Jaminan Fidusia. Akan tetapi, kebanyakan perusahaan pembiayaan tidak melakukan hal itu karena proses birokrasinya yang bertele-tele.

“Makanya dengan adanya dialog di Polda Metro Jaya ini, jika memungkinkan asosiasi ini dipermudah terkait Perkap No 8/2011 itu,” tandas Suwandi.

Cerita Horor Ojek Oline, Alamat Pengiriman Ternyata Kuburan

Cerita Horor Ojek Oline, Alamat Pengiriman Ternyata Kuburan

Di berbagai belahan dunia, hantu merupakan mahluk yang paling populer diceritakan. Orangtua, remaja dan anak-anak begitu gemar mendengar cerita hantu. Entah di negara berkembang maupun negara maju, hantu masih dipercayai dengan berbagai macam bentuk.

Meski menakutkan, namun cerita mengenai hantu selalu menarik rasa penasaran kita. Entah bertalian atau tidak, namun seiring perkembangan zaman, berkembang pula cerita hantu yang terlibat aktif dalam kegiatan teknologi tingkat tinggi.

Salah satunya adalah cerita hantu memesan makanan melalui ojek online berbasis teknologi aplikasi smartphone. Entah para hantu itu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dunia manusia atau lainnya, yang pasti cerita itu benar dan nyata adanya.

Seperti yang dialami oleh Gus Pur, driver ojek online ternama di Indonesia. Gus Pur beroperasi di Bali. Saban hari ia berkeliling Pulau Dewata menjajakan jasa ojek online.

Sudah ribuan orang dia antar dari satu lokasi ke tempat lainnya. Ia juga rajin menerima order makanan yang dipesan pelanggan melalui aplikasi online. Malam Jumat, seperti biasa Gus Pur mangkal di sekitaran Denpasar.

Saat tengah asyik bercengkerama dengan rekannya sesama driver ojek online, tiba-tiba saja aplikasi di handphonenya menandakan adanya pesanan makanan. Secepat kilat ia sambar handphone miliknya. Sekali sentuh saja, order mie di sekitar bunderan Teuku Umar ia terima.

Satu jam lamanya ia antre untuk pesanan mie yang terkenal super pedas itu. Entah kebetulan atau tidak, nama restoran yang dipesan pelanggan menggunakan nama kuburan besar di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Setelah pesanan siap, ia lantas memacu sepeda motornya menuju alamat pemesan yang terletak di lantai tiga sebuah pertokoan nomor 217 di samping Terminal Tegal, Imam Bonjol, Denpasar.

Gus Pur sama sekali tak curiga. Ia terus saja memperhatikan map di aplikasi telepon selularnya. Ia terperanjat ketika aplikasi mengarah masuk ke dalam kuburan Tegal yang terletak di samping terminal.

“Pesanannya diminta diantar ke ruko nomor 217 lantai 3 Terminal Tegal. Tapi arahnya map saya masuk ke dalam kuburan. Saya coba jalan lain, tapi arahnya juga tetap saja mengarah ke dalam kuburan,” ujar Gus Pur

 

HomeRegionalDenpasar
Cerita Horor Ojek Oline, Alamat Pengiriman Ternyata Kuburan

Dewi DiviantaDewi Divianta
20 Nov 2017, 00:06 WIB
0
12
Rumah hantu
Ilustrasi ruang berhantu. (Sumber Pixabay)
Liputan6.com, Denpasar – Di berbagai belahan dunia, hantu merupakan mahluk yang paling populer diceritakan. Orangtua, remaja dan anak-anak begitu gemar mendengar cerita hantu. Entah di negara berkembang maupun negara maju, hantu masih dipercayai dengan berbagai macam bentuk.

Meski menakutkan, namun cerita mengenai hantu selalu menarik rasa penasaran kita. Entah bertalian atau tidak, namun seiring perkembangan zaman, berkembang pula cerita hantu yang terlibat aktif dalam kegiatan teknologi tingkat tinggi.

Salah satunya adalah cerita hantu memesan makanan melalui ojek online berbasis teknologi aplikasi smartphone. Entah para hantu itu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dunia manusia atau lainnya, yang pasti cerita itu benar dan nyata adanya.

BACA JUGA
Aura Mistis Gua Jepang di Klungkung Bali
Bukan Kopi Luwak, Ini Dia Kopi Termahal di Indonesia
Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat Kian Bertambah‎
Seperti yang dialami oleh Gus Pur, driver ojek online ternama di Indonesia. Gus Pur beroperasi di Bali. Saban hari ia berkeliling Pulau Dewata menjajakan jasa ojek online.

Sudah ribuan orang dia antar dari satu lokasi ke tempat lainnya. Ia juga rajin menerima order makanan yang dipesan pelanggan melalui aplikasi online. Malam Jumat, seperti biasa Gus Pur mangkal di sekitaran Denpasar.

Saat tengah asyik bercengkerama dengan rekannya sesama driver ojek online, tiba-tiba saja aplikasi di handphonenya menandakan adanya pesanan makanan. Secepat kilat ia sambar handphone miliknya. Sekali sentuh saja, order mie di sekitar bunderan Teuku Umar ia terima.

Satu jam lamanya ia antre untuk pesanan mie yang terkenal super pedas itu. Entah kebetulan atau tidak, nama restoran yang dipesan pelanggan menggunakan nama kuburan besar di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Setelah pesanan siap, ia lantas memacu sepeda motornya menuju alamat pemesan yang terletak di lantai tiga sebuah pertokoan nomor 217 di samping Terminal Tegal, Imam Bonjol, Denpasar.

Gus Pur sama sekali tak curiga. Ia terus saja memperhatikan map di aplikasi telepon selularnya. Ia terperanjat ketika aplikasi mengarah masuk ke dalam kuburan Tegal yang terletak di samping terminal.

“Pesanannya diminta diantar ke ruko nomor 217 lantai 3 Terminal Tegal. Tapi arahnya map saya masuk ke dalam kuburan. Saya coba jalan lain, tapi arahnya juga tetap saja mengarah ke dalam kuburan,” ujar Gus Pur kepada Liputan6.com, Minggu (19/11/2017).

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Nomor Kontak Mendadak Hilang

Kendati begitu, Gus Pur masih menepis kecurigaannya. Ia bertanya kepada masyarakat sekitar alamat ruko tersebut. “Warga sekitar mengatakan tak ada ruko berlantai tiga nomor 217. Saya juga tanya sama tukang bemo (angkot) dan taksi di sana, tidak ada katanya,” ucapnya.

Dia belum menyerah. Sekali lagi dia cari alamat tersebut. Hampir satu jam lebih ia kitari terminal dan kuburan Tegal. Jalan dari arah utara, selatan, barat dan timur sudah dicoba, tetap saja map mengarah masuk ke dalam kuburan.

Seketika bulu kuduknya berdiri. Ia langsung tancap gas meninggalkan lokasi. Apalagi setelah memesan, nomor telepon pelanggan hilang begitu saja.

“Waktu saya telepon pertama aktif, tapi tidak diangkat. Telepon kedua kali operator bilang nomor belum terdaftar. Saya akhirnya pulang. Saya baru sadar kalau di sana kuburan. Map saya selalu mengarah ke dalam kuburan,” paparnya.

Memang, di samping Terminal Tegal terdapat kompleks pekuburan. Jika malam hari, di sekitar lokasi cukup sepi. Lampu mercury beegitu redup menerangi jalan yang menghubungkan Imam Bonjol menuju Monang-Maning itu.

Lantaran penasaran, esok paginya Gus Pur kembali ke lokasi. Ia menggunakan map sama seperti pemesanan malam itu. Benar saja, tak ada alamat dimaksud.

“Map saya hanya berhenti di pertigaan antara terminal dan kuburan. Di situ tidak ada ruko. Tapi malam itu map saya arahnya ke dalam kuburan. Alamat itu tidak ada ternyata. Tapi kenapa malam Jumat itu bisa terdeteksi GPS,” tuturnya.

Sontak saja, cerita Gus Pur yang mendapat pesanan gaib menyebar cepat dari mulut ke mulut. Meski menyeramkan, warga penasaran bagaimana bisa hantu memesan makanan melalui aplikasi smartphone menggunakan teknologi tinggi.

 

Akhir Drama Penyanderaan di Papua

Akhir Drama Penyanderaan di Papua

Kabut tebal menyelimuti Kimberly dan Utikini, Tembagapura, Papua, hari itu. Jarak pandang terbatasi. Pelatuk senapan tak mungkin ditarik. Terlebih, kelompok pembuat onar yang menjadi incaran masih berbaur dengan warga.

Prajurit hanya bisa mengendap dan mengintai lokasi penyekapan ratusan warga selama lima hari

Kepala Penerangan Daerah Militer XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi di Timika, Sabtu (18/11/2017), menyebut pasukan TNI yang melakukan operasi senyap itu terdiri dari Kopassus 13 personel, 20 personel dari Batalyon 751/Rider. Tugas khusus mereka, merebut Kampung Kimberly dari KKB.

Mereka juga dibantu Peleton Intai Tempur Kostrad bersama Batalyon Infanteri 754/Eme Neme Kangasi dengan personel masing-masing 10 orang.

“Mereka bergerak dengan sangat senyap, sangat rahasia pada malam hari. Lalu pada siang hari mereka mengendap, membeku. Sambil mempelajari situasi secara perlahan sekali mereka sampai di titik sasaran,” ujar Aidi seperti dikutip dari Antara.

Menurut dia, satu hari sebelum jam yang disepakati untuk menyerbu, pasukan sebenarnya sudah berada di lokasi masing-masing dan siap untuk menyerbu. “Selama satu hari itu mereka tidak makan,” ucap Aidi.

Namun, pada Kamis 16 November 2017, operasi penyergapan belum bisa dilakukan. Baru sehari setelahnya, operasi dilancarkan.

Prajurit mengambil kesempatan ketika KKB menjauh dari warga untuk mendiami pos-pos yang baru dibangunnya. Saat itulah penyerbuan berlangsung dramatis. Tembakan demi tembakan meluncur ke arah petugas. Juga ke arah warga yang berhasil dievakuasi TNI-Polri.

Tetap Buru

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memastikan, pasukan akan tetap memburu kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua tersebut. Namun, tindakan itu akan dilakukan setelah proses pengamanan warga selesai.

“Sekarang ini fokusnya adalah mengamankan di sini, sampai ada juga tim pengejaran. Tetapi setelah ini semuanya selesai, tentunya kita akan lakukan pengejaran terus,” ujar Gatot di lokasi pembebasan sandera, Timika, Minggu (19/11/2017).

Gatot mengungkapkan, saat ini warga sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Mereka akan menggelar rapat terkait kelanjutan tempat tinggalnya.

“Mereka melakukan kegiatan ke gereja. Setelah itu, mereka akan melakukan pembicaraan rapat, apakah akan tetap tinggal di sini atau dipindah ke tempat lain. Tapi kalau di sini, sumber makanan tidak ada,” ujar Gatot.

Untuk itu, ia meminta pihak berwenang untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi warga tersebut. TNI dan Polri akan tetap bersiaga untuk mengamankan lokasi.

“Ini adalah urusan dari Freeport dan Pemda. Kami hanya di sini, ya tugas dan tanggung jawab dan kepolisian dan pemda di sini untuk melakukan pengamanan. Tugas pasukan saya membebaskan sandera dan mengamankan tempat ini,” ujar Gatot.

Jerat Pidana Jurnalis Sopir Setya Novanto

Jerat Pidana Jurnalis Sopir Setya Novanto

Nama Hilman Mattauch mendadak populer setelah kecelakaan yang menimpa Ketua DPR [Setya Novanto] (3166413 “”) atau Setnov. Hilman diketahui adalah sopir mobil Fortuner bernopol B 1732 ZLO, yang ditumpangi Setnov pada saat kecelakaan, Kamis 16 November 2017 malam.

Polisi bergerak cepat. Pihak berwajib pun menetapkan Hilman sebagai tersangka. Hilman yang diketahui adalah jurnalis Metro TV, dianggap lalai saat mengemudikan kendaraan yang menyebabkan kecelakaan.

“Namanya sampeyan ditilang, tersangka bukan? Ya, iya (tersangka),” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di kantornya, Jakarta, Jumat 17 November 2017.

Argo menambahkan, Fortuner yang membuat Setnov celaka adalah milik Hilman. Mobil tersebut dibeli setahun lalu dari warga Cinere bernama Aminuddin. Hingga saat ini, mobil tersebut masih terdaftar di Ditlantas Polda Metro Jaya atas nama Aminuddin. “Belum balik nama. Boleh saja,” kata Argo.

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, Hilman tidak ditahan. Dia hanya dikenakan wajib lapor.

“Kita tidak lakukan penahanan, namun wajib lapor seminggu dua kali, Senin dan Sabtu,” ujar Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto, saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu 18 November 2017.

Alasan Hilman tidak ditahan karena dia dinilai cukup kooperatif selama proses pemeriksaan. Selain itu, penahanan juga bukan suatu hal yang harus dilakukan.

“Sepanjang dia tidak akan melarikan diri, tidak akan menyembunyikan barang bukti, tidak akan melakukan suatu perbuatan yang sama, kemudian dia kooperatif, penahanan tidak harus dilakukan,” jelasnya.

Dalam kasus tersebut Hilman Mattauch terancam Pasal 283 dan Pasal 310 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

“Dia dikenakan sanksi Pasal 310 ayat 2 juncto Pasal 283 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pidananya penjara 1 tahun dan denda paling banyak 10 juta,” ucap Budiyanto.

Tak hanya polisi yang menjerat Hilman dengan ancaman pidana. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, akan membidik pihak-pihak yang diduga menghalangi proses penyidikan korupsi e-KTP. Salah satunya adalah Hilman Mattauch yang mengemudikan mobil saat tersangka korupsi e-KTP Setya Novanto kecelakaan.

“Kalau ada pihak-pihak yang berupaya menyembunyikan atau menghalangi kasus e-KTP atau yang lain, ada risiko pidana diatur Pasal 21 UU Tipikor,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat 17 November 2017 malam.

Febri mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dirlantas Polri yang mengolah tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan mobil yang ditumpangi Setya Novanto.

Hilman bisa dijerat lantaran diduga sudah mengetahui keberadaan Setnov saat tim penyidik KPK hendak menjemput paksa Ketua DPR RI tersebut pada Rabu, 15 November 2017 malam. Namun, Hilman diduga saat itu tidak melaporkannya ke KPK.

Febri mengatakan, pihak lembaga antirasuah akan menelisik dugaan tersebut. “Ini sudah kami ingatkan agar pihak-pihak tertentu tidak berupaya melindungi tersangka atau melakukan hal-hal lain dalam kasus e-KTP. Ancamannya 3 sampai 12 tahun. Jadi (ini) tindak pidana yang serius dan KPK akan mempelajari hal-hal itu,” kata Febri.

Terlebih, pada hari ini tim Pengaduan Masyarakat (Dumas) KPK sudah menerima laporan adanya dugaan tindak pidana merintangi proses penyidikan e-KTP.

“KPK terima pengaduan masyarakat terkait pihak-pihak yang lakukan Pasal 21 itu, dan dilakukan telaah dan dalami fakta-fakta yang ada dan analis info yang ada,” terang Febri.

HomeNewsPeristiwa
Jerat Pidana Jurnalis Sopir Setya Novanto

Ika DefiantiIka Defianti
19 Nov 2017, 00:02 WIB
0
12
[Bintang] Setya Novanto Bikin Tagar #SaveTiangListrik Jadi Trending Topic
Mobil yang ditumpangi Setya Novanto menabrak tiang listrik, tagar #SaveTiangListrik pun langsung jadi trending topic. (Istimewa)
Liputan6.com, Jakarta – Nama Hilman Mattauch mendadak populer setelah kecelakaan yang menimpa Ketua DPR [Setya Novanto] (3166413 “”) atau Setnov. Hilman diketahui adalah sopir mobil Fortuner bernopol B 1732 ZLO, yang ditumpangi Setnov pada saat kecelakaan, Kamis 16 November 2017 malam.

Polisi bergerak cepat. Pihak berwajib pun menetapkan Hilman sebagai tersangka. Hilman yang diketahui adalah jurnalis Metro TV, dianggap lalai saat mengemudikan kendaraan yang menyebabkan kecelakaan.

BACA JUGA
VIDEO: Ancaman Hukuman bagi Pengendara Mobil Setya Novanto
VIDEO: Resmi, Setya Novanto Jadi Tahanan KPK
PHOTO: Terkait Kecelakaan Setya Novanto, KPK Angkat Bicara
“Namanya sampeyan ditilang, tersangka bukan? Ya, iya (tersangka),” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di kantornya, Jakarta, Jumat 17 November 2017.

Argo menambahkan, Fortuner yang membuat Setnov celaka adalah milik Hilman. Mobil tersebut dibeli setahun lalu dari warga Cinere bernama Aminuddin. Hingga saat ini, mobil tersebut masih terdaftar di Ditlantas Polda Metro Jaya atas nama Aminuddin. “Belum balik nama. Boleh saja,” kata Argo.

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, Hilman tidak ditahan. Dia hanya dikenakan wajib lapor.

“Kita tidak lakukan penahanan, namun wajib lapor seminggu dua kali, Senin dan Sabtu,” ujar Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto, saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu 18 November 2017.

Alasan Hilman tidak ditahan karena dia dinilai cukup kooperatif selama proses pemeriksaan. Selain itu, penahanan juga bukan suatu hal yang harus dilakukan.

“Sepanjang dia tidak akan melarikan diri, tidak akan menyembunyikan barang bukti, tidak akan melakukan suatu perbuatan yang sama, kemudian dia kooperatif, penahanan tidak harus dilakukan,” jelasnya.

Dalam kasus tersebut Hilman Mattauch terancam Pasal 283 dan Pasal 310 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

“Dia dikenakan sanksi Pasal 310 ayat 2 juncto Pasal 283 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pidananya penjara 1 tahun dan denda paling banyak 10 juta,” ucap Budiyanto.

 

Polisi melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan Ketua DPR, Setya Novanto di kawasan Permata Hijau, Jakarta, Jumat (17/11). Dari olah TKP, polisi menyimpulkan kecelakaan yang menimpa Setnov itu kecelakaan tunggal. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Tak hanya polisi yang menjerat Hilman dengan ancaman pidana. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, akan membidik pihak-pihak yang diduga menghalangi proses penyidikan korupsi e-KTP. Salah satunya adalah Hilman Mattauch yang mengemudikan mobil saat tersangka korupsi e-KTP Setya Novanto kecelakaan.

“Kalau ada pihak-pihak yang berupaya menyembunyikan atau menghalangi kasus e-KTP atau yang lain, ada risiko pidana diatur Pasal 21 UU Tipikor,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat 17 November 2017 malam.

Febri mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dirlantas Polri yang mengolah tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan mobil yang ditumpangi Setya Novanto.

Hilman bisa dijerat lantaran diduga sudah mengetahui keberadaan Setnov saat tim penyidik KPK hendak menjemput paksa Ketua DPR RI tersebut pada Rabu, 15 November 2017 malam. Namun, Hilman diduga saat itu tidak melaporkannya ke KPK.

Febri mengatakan, pihak lembaga antirasuah akan menelisik dugaan tersebut. “Ini sudah kami ingatkan agar pihak-pihak tertentu tidak berupaya melindungi tersangka atau melakukan hal-hal lain dalam kasus e-KTP. Ancamannya 3 sampai 12 tahun. Jadi (ini) tindak pidana yang serius dan KPK akan mempelajari hal-hal itu,” kata Febri.

Terlebih, pada hari ini tim Pengaduan Masyarakat (Dumas) KPK sudah menerima laporan adanya dugaan tindak pidana merintangi proses penyidikan e-KTP.

“KPK terima pengaduan masyarakat terkait pihak-pihak yang lakukan Pasal 21 itu, dan dilakukan telaah dan dalami fakta-fakta yang ada dan analis info yang ada,” terang Febri.

 

Polisi melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan Ketua DPR, Setya Novanto di kawasan Permata Hijau, Jakarta, Jumat (17/11). Sebelumnya, mobil Fortuner yang ditumpangi Setya Novanto menabrak tiang listrik. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Sementara itu, Kadiv Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) M Isnur menyebut, KPK bisa menjerat sopir Setnov dengan Pasal 21 UU Tipikor.

Pasal tersebut bisa dikenakan kepada sopir Setnov yang diketahui merupakan wartawan kontributor Metro TV, karena diduga telah merintangi proses penyidikan kasus e-KTP.

“Bisa. menghalang-halangi penyidikan, masuk obstruction of justice. Makanya KPK penting segera masuk menyelidiki dan mengejar saksi-saksi yang ada di situ,” ujar Isnur di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Jumat 17 November 2017.

Menurut Isnur, KPK harus menelisik langsung sopir dan ajudan Ketua DPR tersebut. Seperti, sejak kapan sopir membawa Setnov. Dia menduga sopir tersebut sudah membawa Setnov sejak malam sang Ketua Umum Partai Golkar itu menghilang.

“Berati kalau sudah seperti itu jelas, mencoba membawa kabur tersangka yang hendak ditangkap. Itu kan bentuk-bentuk penghalangan tindak pidana atau penyidikan korupsi,” kata Isnur.

Dia mengatakan, KPK juga harus menggali keterangan pihak-pihak yang berada di dalam Toyota Fortuner tersebut. Penggalian dilakukan untuk membuktikan apakah arah mobil tersebut hendak ke Gedung KPK atau ke arah yang lain.

“Itu digali dari saksi ini, dan pertanyaan publik apakah ini benar kecelakaan yang alami, gitu, di mana dia teledor, di mana dia lalai menyetir, ataukah ada dugaan-dugaan lain gitu. Itu kan ada banyak kejanggalan, keanehan-keanehan yang temen-temen tulis di situ kan. KPK harus mengungkap,” ujar Isnur.

Pengacara: Setya Novanto Ngorok Terus

Pengacara: Setya Novanto Ngorok Terus

Pengacara Ketua DPR Setya Novanto, Fredrich Yunadi, menjelaskan soal kondisi kliennya selama dirawat di RSCM Kencana, Jakarta, dalam pengawasan KPK. Dia mengatakan Novanto selalu tidur dan tak ada yang berani membangunkan.

“Dia itu tidur melulu, kagak pernah bisa bangun. Saya nggak tahu kenapa. Iya, terus tidur terus, ngorok terus, gitu aja,” kata Fredrich saat ditemui wartawan di RSCM Kencana, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (18/11/2017) sore.

Fredrich sendiri mengaku tidak berani membangunkan kliennya tersebut jika tidur. Bahkan, kata Fredrich, dokter yang hendak memeriksa Novanto juga tidak berani membangunkan.

“Beliau itu tidur, jadi kan saya harus tunggu sampai beliau siuman, sampai beliau bangun. Nggak ada yang berani bangunin dia. Dokter aja kan katanya tadi pagi-pagi datang, nggak berani bangunin, cuma memeriksa saja,” katanya.

Terkait dengan kondisi kesehatan Novanto, Fredrich tak mau menjelaskan. Menurutnya, hal itu harus dijelaskan dokter atau pihak rumah sakit.

“Kalau soal sakit tanya rumah sakit, jangan ke saya,” katanya.

Tragis, Seorang Kakek di Solo Tewas Disengat Ratusan Lebah

Tragis, Seorang Kakek di Solo Tewas Disengat Ratusan Lebah

Nasib nahas menimpa seorang kakek di Kota Solo. Berniat membetulkan genting, kakek bernama As’ad Sungkar (60) itu justru diserang ratusan tawon.

Kejadian berlangsung pada Jumat (17/11/2017) sekitar pukul 07.00 WIB di Semanggi RT 04 RW 16, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.

Saat itu korban naik ke atas genting dengan tangga dari depan rumahnya. Setelah berada di atas, dia langsung diserang ratusan tawon yang bersarang di genting rumah tetangga sebelahnya.

Seorang saksi mata, Sugeng Pambudi Utomo, mengatakan korban terjatuh saat mencoba turun dari tangga kayu. Dia pun mencoba menolong korban.

“Saat jatuh itu saya kira ada orang berantem, ternyata Pak As’ad diserang tawon. Saya keluar bawa mantol menolongnya, tapi saya juga ikut diserang,” kata Sugeng yang tinggal di depan rumah korban.

Sugeng kemudian menyelamatkan diri ke dalam rumah. Ketika keadaan sudah aman, dia kembali keluar dan membawa As’ad ke rumah sakit.

“Kondisinya masih sadar, tapi badannya, di tangan, wajah itu disengat. Saya boncengan naik motor ke RS Kustati,” ujarnya.

Sekitar pukul 11.00 WIB, korban boleh dibawa pulang karena kondisinya membaik. Kemudian korban kembali merasa tidak enak badan dan kembali dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 16.30 WIB.

Namun nyawanya tidak terselamatkan. Dia meninggal di RS Kustati pukul 18.00 WIB. Jenazah lalu disemayamkan di rumah keluarganya.

Usai peristiwa tersebut, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Surakarta mendatangi lokasi untuk membersihkan sarang tawon. Pembersihan selesai dilakukan sekitar pukul 22.00 WIB.

“Sarangnya cukup besar, 1 meter kali 0,5 meter. Kami imbau masyarakat melaporkan kepada kami jika menemukan sarang tawon. Kami akan bantu secara gratis,” kata Kepala Dinas Damkar Surakarta, Gatot Sutanto melalui telepon.

Cerita Pasukan TNI Lumpuhkan KKB Papua dan Bebaskan Sandera

Cerita Pasukan TNI Lumpuhkan KKB Papua dan Bebaskan Sandera

Kapendam XVII Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi menceritakan detik-detik menjelang serbuan pasukan TNI Angkatan Darat (AD) di Desa Kimbely, Banti, Papua, yang dikuasai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Pasukan TNI AD terlebih dahulu masuk ke wilayah tersebut sebelum Satgas Terpadu TNI-Polri mengevakuasi warga yang disandera KKB.

“Sekitar pukul 04.17 WIT, para Pasukan Khusus Indonesia atau Kopassus sebanyak 13 orang, dibantu pasukan Raider 751 sebanyak 30 orang bergerak cepat masuk ke daerah sasaran untuk menyerbu atau menguasai perkampungan Kimbely. Dua tim dari Taipur Kostrad bertugas masuk sasaran dan menguasai permukiman Banti,” cerita Aidi dalam rilisnya, Jumat (17/11/2017).

Pukul 07.00 WIT, lanjut Aidi, pasukan TNI AD berhasil menguasai daerah tersebut dan melapor kepada Pangdam Cendrawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit. Pangdam lalu memerintahkan prajurit untuk segera menguasai pos pengamanan kelompok separatis.

“Kurang dari dua jam, seluruh medan camp OPM (Organisasi Papua Merdeka) berhasil dikuasai pasukan TNI. Para pemberontak atau separatis berhamburan melarikan diri ke hutan dan gunung di sekitar lokasi penyerbuan,” kata Aidi.

Aidi mengatakan TNI belum mengetahui terkait ada-tidaknya korban dari pihak KKB atau OPM dalam penyerbuan di Desa Kimbely dan Banti tersebut. “Karena saat penyerbuan cuaca berkabut sangat tebal,” sambung dia.

Aidi menjelaskan setelah area dinyatakan ‘bersih’, Satgas Terpadu TNI-Polri mendatangi lokasi untuk memulai proses evakuasi warga ke Tembagapura.

“Sekitar pukul 14.00 WIT, prosea evakuasi berhasil dilaksanakan dengan jumlah korban separatis 347 orang terdiri dari warga pendatang dan asli Papua,” ujar Aidi.

Usai proses evakuasi, Satgas Terpadu TNI-Polri tetap tinggal di desa tersebut untuk mengamankan warga yang enggan dievakuasi ke Tembagapura. “Warga yang tinggal meminta jaminan keamanan dari aparat TNI dan jaminan logistik dari Pemda,” tutup Aidi.

Evakuasi warga dipimpin langsung Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar, Pangdam XVII Cendrawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit dan Asisten bidang Operasi Kapolri, Irjen M Iriawan.

Panjat tembok rumah, tiga kuli bangunan perkosa pembantu di Surabaya

Panjat tembok rumah, tiga kuli bangunan perkosa pembantu di Surabaya

Tiga kuli bangunan asal Kabupaten Probolinggo yang bekerja di Perumahan Dian Istana, Kecamatan Wiyung, Surabaya, kini harus meringkuk di hotel prodeo Polsek Wiyung. Tiga kuli bangunan berinisial AR (18), MA (21), dan AM (29), itu melakukan pencabulan terhadap seorang pembantu.

Ironisnya, korban yang berusia 17 tahun dicabuli ketiganya sejak bulan April hingga Juni 2017. Perbuatan pelaku terjadi saat majikan korban sedang tidak berada di rumah.

“Pencabulan, pemerkosaan dilakukan ketiga tersangka dengan memanjat bangunan rumah yang direnovasi. Kebetulan tempat kerja ketiga tersangka itu dekat bersebelahan dengan tempat kerja korban,” kata Kapolsek Wiyung Kompol Rasyad, Kamis (16/11).

Rasyad menjelaskan, pemerkosaan itu berawal dari korban yang sering menjemur di lantai dua. Dari situ, tersangka AR yang melihat saat bekerja mendekati korban.

Dari perkenalan itu tersangka AR terus menjalin hubungan dekat hingga mengajak korban untuk melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Korban selalu menolak, tapi dijanjikan akan dinikahi hingga akhirnya luluh.

Korban melakukannya dengan tersangka. Namun setelah tidur usai berhubungan layaknya suami istri, tersangka menceritakan ke dua temannya MA dan AM.

Tersangka MA dan AM pun mengajak AR, memanjat tembok dengan menggunakan tangga masuk ke tempat kerja korban. “Dari situ, pelaku meniduri korban berulangkali hingga hamil enam bulan,” ujar dia.

Mantan Wakapolsek Wonokromo, ini mengungkapkan perbuatan dilakukan ketiga tersangka terungkap setelah majikan melihat perubahan di tubuh korban karena hamil. Korban mengaku sering diperkosa oleh kuli bangunan yang bekerja di sebelah rumah majikan.

Kasus itupun langsung dilaporkan ke polisi. Karena, ketiga tersangka tidak ada yang mengaku telah melakukan pemerkosaan.

“Karena tidak ada yang mengaku langsung dilaporkan saat itu juga ketiga tersangka kemarin langsung ditangkap,” katanya

Pengacara sebut Setnov alami gejala gegar otak

Pengacara sebut Setnov alami gejala gegar otak

Kuasa hukum Ketua DPR Setya Novanto Fredrich Yunadi mengatakan kliennya sudah sadar setelah pingsan usai mengalami kecelakaan. Fredrich menyebut dari hasil pemeriksaan dokter, Setnov mengalami gejala gegar otak. Dokter memberikan obat penenang untuk mengurangi rasa sakit yang derita kliennya.

“Beliau udah siuman. Kan dari UGD naik ke atas. Tapi dokter waktu periksa katanya ini gejala gegar otak. Dikasih obat anti radang, anti sakit, dikasih penenang. Karena kalau gegar otak supaya jangan goyang dulu,” kata Fredrich di RS Medika Permata Hijau, Jakarta, Kamis (16/11).

Setnov akan menjalani MRI otak untuk mengecek kondisi otak pascakecelakaan. Dia menyebut tekanan darah Setnov juga tinggi sehingga membutuhkan perawatan intensif.

“Jadi besok pagi akan bisa MRI otak seluruhnya. Kemudian jantungnya kemampetannya kelihatan. Tensi darah hampir 200, jadi sangat bahaya, dokter bilang sudah langsung rawat,” ujarnya.

Diketahui, Setnov mengalami kecelakaan di kawasan Permata Hijau, Jakarta sekitar pukul 18.30 WIB. Mobil Fortuner hitam dengan nomor polisi B 1732 ZLO yang ditumpangi Setnov mengalami kecelakaan saat hendak menuju Metro TV